Sabtu, 25 Desember 2010

Aku dan Tulisanku

Kepada Jaranireng:  Aku dan Tulisanku

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....

Minggu, 05 Desember 2010

Buku Komik, Justin Bieber

Justin Bieber memang tidak pernah berhenti menghadirkan sensasi yang luar biasa, sejak kemunjulan di YouTube, karir musiknya terus berkembang sangat pesat, basis penggemar yang berdedikasi, senyumnya bisa membuat gadis muda pingsan, dan keluguannya tanpa merasa bersalah membuat para orang tua hanya tersenyum.

Bluewater Production sedang mengatur Justin Bieber menjadi pahlawan buku komik, dengan cerita yang keren dan nyata untuk seri buku komik populer Fame Comic Biografi, dengan 32 halaman yang akan dijual seharga sekitar 36 ribu rupiah ($3.99, red).

Penulis Tara Broeckel Oeten mengatakan bahwa saat meneliti komik Bieber, ia sangat yakin Bieber memiliki apa yang diperlukan untuk merancang karier musik yang panjang, dan Claudia Avella memang seorang seniman buku komik yang luar biasa.

Justin Bieber memang memiliki kisah yang tidak ternilai, menjadi bintang karena usaha sendiri, yang menggunakan teknologi jaringan sosial untuk mempromosikan diri dan musiknya, dan Bieber jauh di atas para selebriti yang sudah muncul di Fame Comic Biografi, seperti Lady GaGa, Robert Pattinson, Tyler Lautner, David Beckham, Kristen Stewart, dan Taylor Swift. (sakti, sumber fame comic biografi)

Sabtu, 04 Desember 2010

Peri-Periku

Setiap manusia memiliki peri di hati.
Peri yang bernama cinta itu tulus menemani.
Ia akan menangis dan tertawa bersama kita.
(Effendy Wongso)



Dulu ketika nenekku masih ada, nggak pernah kulewatkan malam-malam tanpa dongengnya. Yang paling kusuka kalau ceita itu ada tokoh peri-nya. Sayangnya nenekku nggak pernah bisa menjelaskan mengapa peri-peri itu harus perempuan.
"Sudah dari sananya, Sisi. Lagian kalau lelaki namanya pasti bukan Peri, mungkin Parjo," kata Nenek.
"Ah, Nenek!" seruku tak puas. Sampai akhirnya Nenek meninggal, aku belum menemukan jawaban yang pas.
Di bangku kelas empat SD baru kutemukan sosok peri lelaki. Mmm, sebenarnya dia juga manusia. Cuma suatu hari aku lupa bahwa saat itu ada tugas menggambar. Sampai di kelas buru-buru kukerjakan. Sebenarnya aku nggak begitu bisa karena Pak Minto mewajibkan murid perempuan menggambar bunga. Sampai tanda bel masuk berbunyi, aku masih belum yakin dengan apa yang telah kugambar.
Pak Minto meminta kami mengumpulkan tugas.
Dadaku dak-dik-duk sewaktu ia mulai memeriksa gambar-gambar di depannya. Hening, Pak Guru yang berkumis lebat itu berkerut tak lama kemudian.
"Sisilia! Apa yang kamu gambar ini?" teriaknya kemudian.
"Bunga, Pak," jawabku langsung.
Pak Minto mengangkat buku gambarku dan menunjukkan karya besarku itu ke depan teman-temanku. "Ayo siapa yang tahu bahwa gambar ini bunga?" tanya Pak Minto.
Tahu-tahu sebentuk lengan diangkat dari bangku belakang.
"Primadi! Ya, bunga apa ini?"
"Bunga matahari ketabrak truk lantas ketiup angin ribut!"
Seisi kelas tertawa. Termasuk aku. Tapi Pak Minto malah semakin marah. Ia kemudian menyuruh aku dan Primadi berdiri di sudut kelas selama pelajaran menggambar. Pertolongan Primadi memang nggak besar, hanya menemaniku dihukum di depan kelas. Tapi itu sudah jadi cukup alasan untuk kemudian aku memanggil dan menganggapnya sesosok Peri.
Meski mulanya ia nggak suka, tapi akhirnya mau juga. Apalagi ketika anak-anak lain juga memanggil sama sepertiku. Dan nama panggilannya semula, yakni Jabrik, sudah terlupakan. Lagian rambutnya memang sudah dikeriting.
Peri pertamaku ternyata tak bertahan selamanya. Saat kenaikan ke kelas enam, ia pindah entah ke mana. Kalau nggak salah ke London mengikuti ayahnya yang harus tugas di sana. Sebulan kemudian aku sakit parah. Bukan karena ditinggal Peri, tapi kata Dokter ginjalku rusak. Saking lamanya aku dirawat, aku terpaksa mengulang sekolahku di kelas enam sementara teman-temanku masuk SMP. Tapi yang sempat menghiburku, aku menemukan Peri yang kedua.
Sore itu hari pertamaku di ruang rawat. Seorang anak perempuan yang semula terbaring di sebelah tempat tidurku tahu-tahu meloncat ke sebelahku. Rambutnya yang tipis dan rontok hampir menakutkanku kalau saja ia tak buru-buru tersenyum manis.
"Kamu mau ikutan main denganku?" tanyanya. Matanya bergerak nakal.
"Main? Main apa?"
"Pokoknya rame. Begini, sebentar lagi akan datang suster memeriksa kita. Nah, pas giliran aku dimasuki termometer, kamu harus memanggilnya dan mengajak bicara selama mungkin. Sanggup?"
Aku hanya mengangguk. Sepuluh menit kemudian datang suster memeriksa enam anak yang satu ruangan denganku. Setelah suster itu memasukkan termometer ke dalam mulut anak perempuan itu aku langsung memanggil suster itu. Kukeluhkan sedikit perutku. Ia memeriksa dan menghiburku. Setelah kurasa cukup, ia membalik ke arah anak perempuan itu.
Sedetik kemudian aku melihat wajah sang suster pucat dengan mulut menganga. Ia kemudian buru-buru meninggalkan kami. Aku baru tahu apa yang terjadi kemudian. Ternyata anak perempuan itu punya termometer yang sama dengan suster tadi. Termometernya ia masukkan ke dalam air panas yang sudah ia siapkan. Saat suster itu membalikkan badannya ia menukar termometer di mulutnya dengan miliknya. Pantas saja kalau suster tadi kaget karena melihat suhu yang tertera di atas normal.
Ia lantas menyebutkan namanya Peni. "Tapi kamu boleh memanggilku apa saja. Di sini para suster memanggilku si Bandel, ada juga yang memanggilku Botak," katanya.
"Bagaimana kalau kamu kupanggil Peri saja. Aku suka nama itu."
"Boleh saja. Karena kamu menambahkan huruf R di namaku, aku juga akan menambahkannya di namamu. Aku akan memanggilmu Sisir. Hehehe...."
Kebandelan peri yang kedua ini ternyata jauh melebih kebandelan anak cowok yang pernah kutahu. Ia bahkan pernah membawa seekor kecoa dari toilet lalu melepaskannya di pundak suster yang datang. Tentu saja suster itu jadi meloncat-loncat kegelian dengan wajah pucat. Di balik itu, peri juga cukup baik dengan sesama teman di ruangan. Ia suka membagikan buah-buahan di mejanya terutama untuk Wanda yang sepertinya jarang dibesuk.
Dua minggu dirawat jadi tak terasa. Sampai suatu pagi saat aku terbangun, aku nggak melihat Peri di ranjangnya. Setelah diberitahu Peri meninggal dunia semalam, aku menangis seharian. Aku benar-benar kehilangan dia. Papa akhirnya memindahkan aku ke ruang lain agar nggak membuat sakitku bertambah parah.
Masuk bangku SMP aku kembali mencari-cari orang yang bisa kujadikan Peri ketigaku. Akhirnya kudapatkan ketika aku mengikuti kegiatan paduan suara di sekolah. Namanya Ferry, tapi ia tak keberatan ketika kupanggil Peri.
Ia banyak menolongku mengajarkan cara bernyanyi yang baik, juga bahasa Inggris. Bahkan ia mau saja menemaniku ke mana pun, walau misalkan pada acara yang anak lelakinya hanya dia. Aku nggak tahu mengapa ia begitu baik, sementara aku belum pernah menghitung kebaikanku.
Cuma belakangan aku melihat kejanggalan yang tak kumengerti. Peri ketigaku ini sering ngobrol dengan teman-teman cewek yang lain soal teman-teman cowok yang ganteng. Dia juga pernah setengah memaksa meminta foto abangku ketika main ke rumahku. Karenanya, aku terpaksa meninggalkannya. Lagi pula ia mulai akrab dengan Eko, anak lelaki yang cara dan jalannya itu mengingatkanku pada seekor bebek.
Sejak itu aku agak selektif memilih calon-calon Peri-ku. Bahkan di bangku SMA aku nggak menemukannya sama sekali. Sekali cowok bernama Ferdi mendekatiku dan menyatakan ingin memacariku.
"Boleh saja, tapi kamu harus mau kupanggil Peri," kataku memberi syarat.
Mulanya ia menyetujui. Tapi ketika aku mulai memanggilnya dengan nama itu di depan teman-teman dan keluarganya, ia mulai menjauhiku. Ah, biarin aja. Aku yakin kok suatu saat nanti akan benar-benar hadir sosok Peri di hadapanku.
***
Siapa bilang perploncoan di bumi Indonesia ini sudah dihapuskan?
Aneh, kok masih bertahan juga sih, sisa-sisa peninggalan kolonial di sini. Seperti yang kualami kini. Setelah masa orientasi kampus yang melelahkan, para mahasiswa baru diminta ikut perkemahan yang diadakan himpunan jurusan. Ancaman bagi yang nggak ikut cukup menakutkan. Akan dikucilkan! Nggak boleh ikut kegiatan himpunan yang spektakuler sekalipun, bahkan nggak boleh ngobrol dengan senior.
Terpaksa aku ikut. Meski aku mendengar dari senior lain bahwa perploncoan himpunan mahasiswa jurusan Jurnalistik adalah yang paling sadis di fakultas Komunikasi.
"Ya, turun semua! Istirahat sepuluh menit! Jangan ada yang cengengesan!" Seorang senior perempuan berteriak ketika truk yang ditumpangi empatpuluh lima mahasiswa baru berhenti di sebuah perkebunan teh.
Aku turun seperti yang lainnya. Kubuka botol air mineral dari ranselku. Baru seteguk air kurasa, tahu-tahu suara jeritan terdengar keras di dekatku.
"Heh, siapa yang suruh kamu minum? Cepat berdiri dan pergi menghadap Tatib di sana!" Senior bawel itu menghardikku.
Aku berdiri tanpa bisa protes dan berjalan mencari senior yang bertanda khusus. Aturan mainnya memang telah ditetapkan, yang menghukum cuma senior dari bagian tata tertib. Akhirnya kudapatkan juga senior mengenakan pita merah di lengan bajunya yang tengah berdiri sendiri.
"Maaf, Kak, saya diminta menghadap karena kesalahan saya," kataku tanpa berani menatapnya.
"Apa kesalahan kamu?" Suara itu terdengar menggelegar.
"Minum sebelum waktunya."
"Bagus. Siapa nama kamu?"
"Sisilia."
"Siapa? Sisilia?"
Kulihat di melotot ke arahku. Entah hukuman seberat apa yang akan ia berikan setelah mendengar namaku.
"Kamu tahu siapa saya?" tanyanya kemudian.
"Tahu. Kakak dari bagian Tatib."
"Bego kamu! Maksudnya nama saya!" Suaranya makin meninggi.
Aku mencoba mengamatinya sekilas. Rasanya aku nggak melihat senior satu ini ketika pegarahan kemarin.
"Lihat muka saya! Perhatikan!"
Aku mengamati mukanya. Rahangnya yang kukuh, hidungnya, matanya, dan... kok yang muncul malah nama Justin Timberlake. Tapi nggak mungkin Justin membentakku dalam bahasa Indonesia.
"Ya, sudah kalau nggak mengenal. Kali ini kamu lolos dari hukuman. Tapi kalau nanti menghadap lagi masih belum kenal saya juga... awas!"
"Terima kasih, Kak!" Aku langsung berbalik lega. Buru-buru aku ke kelompokku. Rasanya masih ada waktu untuk istirahat beberapa menit.
"Diapain kamu tadi?" tanya Arni yang dekat denganku sejak penataran.
"Nggak diapa-apain. Kamu lihat sendiri dari sini, kan? Cuma aku disuruh nyari tahu namanya. Padahal dia kan nggak datang di acara kemarin, jelas aku nggak tahu namanya."
"Jadi kamu benar-benar nggak tahu namanya? Ya, ampun kamu tuh kuper banget sih. Dia kan Kemal, mantan coverboy empat tahun lalu. Cukup sering lho dia mejeng di majalah. Malah sempat main sinetron. Kamu tahu Winda yang dari Sukabumi itu. Nah, dia malah pengen kuliah di jurusan ini gara-gara ngefans berat sama Kemal," jelas Arni panjang lebar.
Aku ternganga. Oh, jadi dia coverboy. Pantas lagaknya macam begitu. Tapi apa iya sih cuma karena dia coverboy dan pernah main sinetron semua orang harus tahu namanya. Bagaimana dengan aku yang cuma hobi baca komik Asterix dan nonton film Hollywood? Benar-benar keterlaluan!
Belum reda rasa gusarku, para senior sudah menyuruh bersiap-siap untuk melakukan perjalanan melintasi dua bukit sebelum sampai ke lokasi perkemahan. Entah sengaja atau nggak, dalam perjalanan beberapa kali aku melihat Kemal tengah memandang ke arahku. Mungkin dia tengah merencanakan hukuman paling memalukan untukku kelak.
Karenanya, aku berusaha untuk nggak membuat kesalahan sekecil apapun lagi. Tapi dasar sial, tengah malam ketika diadakan pemeriksaan perbekalan, aku ketiban sial. Lilin yang kubawa patah meski aku sudah menyimpannya hati-hati.
"Kamu ke pos satu dan beritahu kesalahanmu!"
Buru-buru aku berlari sebelum dibentak kasar. Pos satu yang kucari tak jauh dan betapa kagetnya aku ketika melihat siapa senior yang sudah menungguku.
"Lagi-lagi kamu! Nah sekarang pasti kamu sudah tahu siapa saya. Kalau benar, kamu nggak akan dihukum...."
"Nama Kakak... Kemal."
"Cuma itu?"
"Kakak pernah jadi coverboy, juga main sinetron."
"Ada yang lain?"
Oh, apalagi yang kutahu? Mestinya aku tadi bertanya banyak pada Arni.
"Kamu benar-benar keterlaluan. Tutup matamu dengan ini," katanya sambil memberikan slayer. Aku segera mengikatnya hingga menutup mataku. Tanganku kemudian ditariknya dengan kasar hingga aku harus berlari mengikutinya. Entah berapa jauh aku berlari, tapi mendengar teriakan-teriakan sekitarku, aku yakin bukan cuma aku yang diperlakukan seperti ini.
"Sekarang buka slayernya!"
Aku menuruti kalimat itu. Kulihat ia masih berdiri di depanku. Setelah berlari tadi kurasa tubuhku sedikit hangat, tapi aku nggak tahu berada di mana kini karena di sekitarku hanya ada pohon teh.
"Apa kamu sekarang bisa mengenaliku?" tanyanya bersiteguh.
Aku tetap menggeleng. Rasanya aku benar-benar tersiksa.
"Bagaimana kalau kusebutkan 'bunga matahari ketabrak truk lantas ketiup angin ribut', kamu ingat?"
Aku mengerutkan dahiku. Rasanya nggak percaya mendengar kembali kalimat yang dulu pernah kudengar. Jadi....
"Kamu Peri, hm maksudku Primadi. Tapi kamu kan Kemal...." Aku terbata-bata.
"Kemal Primadi. Tapi dulu selalu menyingkat nama depanku. Lagian orang lebih senang memanggilku Jabrik, sampai kemudian kamu memanggilku Peri.... Oh, syukurlah kamu sekarang sudah mengingatku. Bertahun-tahun aku mencari kamu. Bahkan aku ikutan coverboy dengan harapan kamu kemudian bisa mengenalku dan menyuratiku. Tapi nggak ada. Tahu nggak, setelah pisah dengan kamu, aku selalu berusaha mencari penggantimu, dengan syarat bernama Sisil. Tapi nggak ada yang seperti kamu."
Aku tersenyum. "Sekarang setelah ketemu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku ingin kita bisa dekat lagi seperti dulu. Bahkan kalau bisa.... Eh, ada senior yang datang.... Jadi itu kesalahanmu! AYO TUTUP MATAMU!"
Aku terpaksa menahan tawa mendengar nada suaranya yang tiba-tiba meninggi itu. Aku nggak peduli lagi bagaimana Peri yang pertama singgah dalam hidupku ini mengajakku berlari kembali menuju perkemahan. Aku gembira tanpa bisa kujelaskan bentuknya.
Dan perploncoan ini jadi nggak terlalu mengerikan buatku. Apalagi Kemal, eh Peri sempat berbisik tadi, "Kalau kena hukuman cepat cari aku biar kamu nggak sampai dimacam-macamin yang lain!"
Hihihi, curang sebenarnya. Tapi biar bagaimana juga, tugas seorang Peri di mana pun memang harus menolong sih! ©

BIODATA PENULIS
Benny Ramdhani, lahir di Bandung. Ia merupakan penulis senior, yang karyanya sudah tak terbilang jumlahnya, yang telah diterbitkan oleh berbagai media cetak nasional. Ia juga merupakan salah satu penulis cerita remaja yang paling banyak menjuarai LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novelnya pun sudah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional di Bandung dan Jakarta. Kini ia menjabat sebagai chief in editor pada Penerbit Mizan Publishing di Bandung.
by Cafe NOVEL

Kekasih Bayangan

Terhitung sudah tiga hari ini Ria menganggap obrolan Winta dan Diana jadi amat membosankan. Tampaknya mereka sudah tidak peduli lagi apakah Ria menyukai obrolan itu atau tidak karena tiap kali obrolan mereka tampaknya makin seru.
"Benar lho, Na. Dion kemarin mulai sering curi-curi pandang ke arah gue. Bukannya ge-er. Dua kali gue nangkep basah," kata Winta sambil menelan cendol hijau kesukaannya.
"Itu berarti udah deket lagi ama jadian. Kayak waktu gue dengan Restu tempo hari. Nggak lama setelah dia suka curi pandang, mulai deh dia ngajak nonton. Mana film India lagi. Tahu kan gue paling suka film India. Udah karcisnya murah, filmnya panjang," timpal Diana. Tangannya membetulkan letak kacamatanya.
"Ah, itu sih otak elo aja yang nggak mau rugi!" sahut Winta. Ia kemudian melirik Ria yang cuma mengaduk-aduk siomai di depannya. "Elo sendiri gimana? Gacoan elo udah dapat?"
Ria cuma tersenyum kecil matanya menerawang lalu mengedip-ngedip membuat Diana dan Winta penasaran. "Pokoknya seru dan mengesankan," mulut Ria terbuka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu.
"Seru gimana?" tanya Winta yang tak menyangka Ria akan memberi respon lantaran sejak tadi cuma bengong.
Mulut Ria tak segera terbuka. Dipandanginya Winta dan Diana bergantian. "Begini.... Mmm, kemarin gue kan ke toko buku beli diari buat kado ultah Nenek gue. Nah, pas pulangnya di bis ada cowok cakep. Ya, akhirnya kita kenalan deh."
"Pasti elo duluan yang ngajak kenalan," tuding Diana.
"Yee, kok nuduh. Yang jelas mulanya karena waktu itu gue mau bayar bis, tapi nggak punya receh. Uang gue limapuluh ribuan semua. Untung cowok di sebelah gue itu ngerti dan mau bayarin gue."
"Namanya siapa?" tanya Winta dan Diana nyaris berbarengan.
"Namanya.... Mmm Roy. Ya, Roy. Perhatikan, dari namanya aja dia bakalan cocok jadi cowok gue. Ria dan Roy. Cocok, kan?" Mata Ria berbinar. Dia memuji dirinya sendiri dalam hati karena kali ini bisa membuat dua sahabatnya takjub. Soal apakah dusta itu akan terbongkar, itu urusan nanti.
Bel istirahat usai berbunyi. Tiga sahabat itu bergegas menuju kelas setelah membayar apa yang mereka makan dan minum selama di kantin. Di sela-sela waktu belajar, pikiran Ria menerawang memikirkan rencana obrolan soal cowok gacoannya. Ya, tidaknya dia tak perlu duduk menjadi pendengar setia saat di antara sahabatnya.
Pulang sekolah Ria tidak bisa pulang bareng dengan dua sahabatnya. Diana pulang dengan cowok barunya, Restu. Meski Restu menawarinya untuk satu mobil, tapi Ria menolak. Apa enaknya jadi kambing congek di antara sepasang kekasih. Sementara itu Winta masih harus rapat OSIS. Tentu aja cewek itu semangat karena di sanalah dia bisa saling curi-curi pandang dengan Dion.
Ria melangkah malas ke halte terdekat. Jam pulang sekolah begini butuh perjuangan untuk mendapatkan tempat duduk fi atas bis. Makanya Ria sengaja memilih bis patas AC, meski mahal asal sampai. Begitu bis yang ditunggunya datang, Ria segera naik dan mencari tempat duduk di bagian belakang, biar gampang turun.
"Hei, ketemu lagi kita! Baru pulang?"
Ria terkejut mendengar sapaan di sebelahnya karena ia baru saja duduk. Seorang cowok cakep menatapnya sambil tersenyum. Ria mencoba mengingat-ingat sosok di sebelahnya. Siapa?
"Lupa, ya? kemarin sore kita kan baru kenalan di bis. Namamu Ria, dan aku Roy. Kita kenalan gara-gara kamu nggak punya uang receh untuk bayar bis kemarin. Ingat?"
Ria menggeser duduknya sedikit menjauh. Roy? Kemarin? Ah, mana mungkin! Aku kan cuma berbohong mengatakan hal itu kepada Winta dan Diana pagi tadi. Lalu siapa orang ini sebenarnya? Ria kelimpungan.
"Terserah kamu kalo memang nggak mau kenal lagi denganku. Cuma kamu perlu tahu, aku nggak bisa tidur semalaman. Habis kamu nggak ngasih tahu nomor HP. Untung Tuhan kasihan sama aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu pulang sekolah begini," Roy terus nyerocos.
Ria masih berpikir. Aku nggak bisa diam terus, putusnya dalam hati. "Maaf, kalau boleh tahu, kamu sendiri masih sekolah, kuliah atau...."
"Menurut kamu apa? Yang jelas aku sudah tamat SMA. Apa kamu keberatan kalau punya pacar bukan anak SMA?"
"Pacar? Kok ngelantur, sih?"
"Lho, kamu kan kemarin bilang belum punya pacar. Apa aku kurang ganteng untuk ukuranmu?"
Ria melirik wajah Roy. Matanya begitu mirip Ethan Hawke. Sama persis dengan cowok yang diidolakan Ria selama ini. Pantas saja Ria tadi merasa pernah melihat Roy. Setidaknya, Ria memang pernah membayangkan punya pacar yang bertampang macam itu.
"Ria dan Roy. Aku rasa itu nama pasangan yang cocok, kan?" kata Roy lagi.
Ria mengerutkan dahinya. Kalimat itu sempat diungkapkannya kepada Diana dan Winta tadi pagi. Ia menghela napas sebentar. Semua ini tidak mungkin dipikirkan. Jalani aja... jalani aja, bisiknya dalam hati.
"Rumahmu masih jauh?" Roy menyentak Ria.
"Masih dua halte lagi," jawab Ria setelah melihat keluar jendela. "Nanti ganti naik mikrolet. Sampailah."
"Boleh aku tahu rumah kamu?"
Ria buru-buru menggeleng. "Kapan-kapan aja. Jangan sekarang," lanjutnya. Dia ngeri membayangkan tampang Neneknya kalau sampai melihat ada cowok yang mengantarnya. Masih menempel di benaknya ketika Shasa, kakaknya, dulu waktu SMA pernah diceramahi habis-habisan gara-gara membawa teman cowok ke rumah. Itulah yang sampai kini membuat Ria ragu untuk pacaran.
***
Sebenarnya Ria ingin mengatakan kejadian menakjubkan yang dialaminya saat ngobrol di kantin seperti biasanya. Tapi niat itu diurungkannya karena yakin dua sahabatnya malah tidak akan pernah mempercayainya lagi nanti. Lagipula, Ria sudah bisa menikmati obrolan soal cowok.
Winta berceloteh tentang Dion yang mulai berani mengantarnya pulang kemarin. Diana memaparkan sifat romantis Restu saat mengajaknya nonton film India terbaru yang dibintangi Shahrukh Khan dan Preity Zinta. Ria tentu aja ngak mau kalah, menceritakan hal yang dialaminya kemarin ditambah sedikit bumbu biar seru.
"Jadi dia anak orang kaya? Ah, masak orang kaya bisa dua kali ketemu lagi naik bis," timpal Winta usai Ria berceloteh.
"Mobilnya lagi ngadat. Nanti dia rencananya mau ngejemput sepulang sekolah. Sekalian ngajak makan-makan," bohong Ria kian kumat.
"Kalo begitu, gue nggak langsung pulang ah nanti. Penasaran pengen lihat gacoan elo itu," kata Winta.
"Gue juga. Kenalin ya!"
Ria gelagapan menanggapinya. Sedetik kemudian terdengar kalimat melengking di belakangnya. Mieke dengan gaya yang centil mendekati tiga sahabat itu sambil membagi-bagi undangan berbentuk dadu.
"Jangan lupa datang hari Sabtu nanti. Syaratnya cuma bawa pasangan. Yang nggak punya pacar, boleh bawa adik atau kakak, asal jangan bawa kambing!" kata Mieke sebelum meninggalkan meja di sudut kantin itu.
Mereka bertiga buru-buru membaca undangan itu. Diana langsung tersenyum karena ia yakin kalo Restu akan mau diajaknya ke pesta, sementara Winta hanya komat-kamit berharap agar Dion nanti akan menawarkan diri menjadi pasangannya, sedangkan Ria masih bingung.
"Elo bakal ngajak si Roy, kan?" tanya Diana. Benaknya sudah membayangkan betapa serunya acara kencan bersama itu nanti.
"Entahlah. Aku nggak tahu dia suka pesta atau nggak."
"Ya, tinggal kamu tanya aja nanti. Uh, rasanya gue nggak sabar menunggu bel pulang. Gimana sih tampang Roy-mu itu!" kata Winta sambil menyuapkan siomai ke mulutnya.
Ria cuma meringis. Ia malah berharap waktu berjalan lambat agar bisa berpikir alasan apa yang dilontarkannya nanti karena sebenarnya Roy memang tidak akan pernah datang. Namun waktu malah berjalan semakin cepat. Dan sewaktu bel pulang berbunyi dada Ria berdetak kian keras. Apalagi Winta dan Diana terus menguntitnya.
Sepuluh menit pertama Diana dan Winta masih berharap cemas mendampingi Ria di pintu gerbang, sepuluh menit berikutnya perut mereka keroncongan dan mulai memaki Ria.
"Coba elo telepon dong ke HP-nya."
"Udah barusan. Tapi nggak aktif."
Sepuluh menit kemudian Winta dan Diana meninggalkan Ria karena sudah tak tahan ingin pulang. Cuma Ria yang tinggal karena dia harus pura-pura tetap menunggu Roy. Dan tiga menit kemudian, sebuah Corona putih tepat di depan Ria.
"Roy!" Ria memekik kaget ketika melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Dia menengok kanan-kiri, siapa tahu Winta dan Diana masih ada. Dengan demikian dua sahabatnya bisa segera tahu bahwa ia kini benar-benar sudah punya gacoan.
"Kupikir aku terlambat menjemputmu," kata Roy sambil mendekati Ria.
"Menjemputku?"
"Kamu kemarin kan memperbolehkan aku jemput kamu sekarang. Dan jangan bilang, kamu juga lupa bahwa siang ini aku janji mentraktirmu makan!"
"Nggak, aku ingat itu!" timpal Ria meski bingung. Semuanya harus kujalani, apa adanya! Tekan Ria. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di sisi Roy.
Ria merasakan saat yang membahagiakan. Inikah yang namanya musim semi? Pantas Diana dan Winta selalu bersemangat tiap hari. Seandainya saja Nenek membolehkanku, Ria membatin.
Saat makan di sebuah restoran Jepang, Ria mengatakan pada Roy soal undangan pesta ulangtahun Mieke. "Aku sendiri sebenarnya nggak begitu suka pesta. Tapi dua sahabatku minta supaya aku datang. Bagaimana menurutmu, Roy?"
"Yang namanya diundang, ya harus datang. Aku nggak keberatan menemani kamu. Berapa hari lagi sih? Oh, lima hari lagi? Kok ngundangnya mepet begini?"
"Sebenarnya undangan lisannya udah dari dua minggu lalu. Oh, iya makasih kalo emang kamu mau nganter aku. Tapi aku...." Ria teringat bayangan Neneknya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Ria menengok arlojinya. "Sudah kelamaan nih. Pulang yuk."
Roy mengangguk. Dia mengantar Ria. Tapi Ria menolak Roy mengantar sampai depan rumah. Dia meminta Roy menghentikan mobilnya beberapa rumah sebelumnya. Untung Roy tidak tersinggung dan mau mengerti.
Ria menemukan Neneknya di teras rumah. Dia merasa beruntung karena tadi Roy tidak mengantarnya sampai depan rumah. Ria mendekati Nenek, dan memberi kecupan. Tawa kecil Nenek membuat Ria heran.
"Mengapa nggak kamu suruh temanmu mampir dulu?"
"Ah, Nenek. Ria kan naik bis."
"Jangan bohong. Seragammu bersih dan nggak tercium bau rokok serta keringat seperti biasanya. Mukamu cerah dan langkahmu seperti orang yang habis makan kenyang. Begitu, kan?"
Ria tersipu. Susah memang berbohong pada Neneknya, sekecil apapun.
"Dia pacarmu?"
"Nenek bukannya nggak suka kalo Ria pacaran?"
"Kapan Nenek melarang? Belum pernah."
"Secara langsug memang belum. Tapi Ria masih ingat waktu dulu Nenek marahin pacar Mbak Shasa, padahal Mbak Shasa udah gede."
Nenek tersenyum memamerkan kempot pipinya. "Jadi karena itu kamu takut pacaran? Waktu itu Nenek marah sama Shasa bukan karena dia pacaran, bukan pula karena udah gede atau belum. Tapi apa pantas Shasa pergi dengan seorang cowok sampai larut malam dan tanpa pamit? Pantas nggak?"
Ria menggeleng. Matanya baru terbuka kalau selama ini sebenarnya neneknya tidak melarang ia pacaran. Yang penting asal tahu batas dan aturan!
***
Tidak ada berita yang paling menggembirakan bagi Winta dan Diana ketika Ria menyampaikan bahwa ia akan pergi bersama Roy ke pesta Mieke. Berarti tiga sahabat itu bisa bepergian bareng tanpa mengorbankan perasaan satu orang pun.
"Jadi Roy tuh kemaren telat jemput elo? Ih, gara-gara Winta nggak sabaran sih."
"Yeee, kok gue sih yang disalahin."
"Roy ada rencana jemput elo lagi nggak sih?"
Ria menggeleng. Takut kejadian kemaren terulang lagi. "Lagian gengsi banget minta dijemput mulu," kilah Ria walau sebearnya dia berharap lain.
Ya, pulang sekolah Ria sengaja naik patas AC lagi. Siapa tau bisa ketemu dia lagi, harapnya. Pikirannya menerawang, mengingat Roy. Baru dua kali ketemu Ria merasa ada yang lain di hatinya. Aih, cepat banget sih?
Mudah-mudahan nanti dia nelepon, harapnya. Ria menyesal HP-nya rusak karea kerendam cucian tadi pagi.
Waktu berlalu cepat ketika Ria mengharapkan keajaiban muncul. Tapi tidak ada telepon dari Roy maupun kemunculan surpraisnya. Ria mendadak merasa dadanya terhimpit. Sementara wajah Roy makin melekat di benaknya.
Roy-Roy-Roy.... Kamu di mana sih?
***
Penyakit memang tidak pernah diundang datangnya. Pagi setelah hari yang dilalui Ria. Tanpa Roy, Ria terbaring sakit. Entah apa sebabnya. Malah sampai tiga hari kemudian Ria masih terbaring sakit. Seperti biasa Diana dan Winta kembali menjenguk Ria di siang hari. Sekalian mengabarkan, sebagai tanda solidaritas mereka akan membatalkan rencana ke pesta ulangtahun Mieke nanti malam.
"Gue nggak mungkin ke pesta itu sementara elo terbaring sakit seperti ini," papar Winta.
"Jangan bodoh. Gacoan kalian pasti nggak suka ini. Mereka akan menyumpahi penyakit gue tambah parah."
Winta memandang Diana. "Hal ini juga sekalian menunjukkan rasa penyesalan gue karena selama ini nggak mengerti perasaan elo," timpal Diana.
"Apa maksud kalian?" tanya Ria. Kepalanya yang pusing semakin bingung.
"Tentang Dion dan Restu. Mestinya kami tahu diri nggak cerita tentang mereka di depan elo. Hingga akhirnya elo harus berbohong."
"Win, sederhanain kalimat elo!"
Winta menghela napas. "Ayolah, Ria, elo harus jujur bahwa elo nggak suka kalo gue sama Diana bicara soal cowok-cowok itu karena elo nggak punya seorang cowok yang harus elo bicarain. Lalu elo ngarang tentang Roy untuk menutupi kejengkelan elo itu."
"Pada mulanya memang gue berbohong, kemudian dia muncul, Roy memang ada."
"Tapi mana dia? Emang elo pernah bisa menghadirkannya di depan gue berdua? Bahkan sudah tiga hari elo terbaring sakit, dia nggak muncul-muncul?" desak Winta disusul Diana. Mereka yakin betul, penyakit yang dialami Ria pun gara-gara tekanan tidak punya pasangan untuk ke pesta ulangtahun Mieke.
Ria menggigit bibirnya. Pertanyaan itu juga muncul di benaknya. Mengapa Roy nggak datang-datang juga? Semakin dipikir kian membuat dirinya tak berdaya. Ria menggamit tangan Winta. Isaknya terdengar pelan. "Mungkin dia sedang ke luar negeri ya, Win," katanya menghibur diri, sekaligus menjaga agar tangisnya nggak jatuh.
Diana mengelus rambut Ria. Sejak semula dia sudah menduga cerita Ria tentang Roy cuma isapan jempol belaka. Tapi ia tak mau menggubris. Cuma kalau jadinya Ria seperti ini, tentu saja sebagai sahabat dia tidak tega.
"Tapi dia seperti benar-benar ada. Tawanya, ucapannya dan semuanya masih kuingat di kepalaku," sambung Ria.
Diana mengibaskan tangannya. "Elo harus lupain itu semua. Barangkali sosok Roy sebenarnya cuma kekasih fantasi aja. Itu lho, tentu elo masih ingat waktu kita kecil dulu punya teman fantasi yang seolah-olah ada menemani kita saat sendirian. Kayaknya Si Roy makhluk semacam itu yang hadir karena tekanan kesendirian elo, Ria," ujar Diana mencoba membagi pengetahuan yang ia miliki.
Ria termangu. Mungkin dua sahabatnya benar. Dia harus melupakan Roy yang sesungguhnya tidak pernah ada itu.
"Biar elo nggak ngehayal lagi, nanti akan gue bantu deh nyari cowok buat pasangan elo. Sebut aja, mau Peter, Gino atau Oding?"
"Win, elo tuh kalo nawarin orang seenaknya. Memangnya gampang. Belum tentu dianya mau sama gue."
"Ya, namanya juga usaha. Asal jangan Delon aja. Soalnya gue juga ngejar-ngejar dia."
Pintu kamar diketuk sebentar, lalu muncul Nenek membawa baki berisi dua gelas jus segar untuk Winta dan Diana. Nenek juga menyodorkan faksimili.
"Dari Singapura," kata Nenek sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar.
Ria buru-buru mrmbaca kertas surat tersebut.
Dearest Ria,
Maaf, aku nggak bisa memenuhi janji mengantarmu ke pesta ulangtahun itu. Kami sekeluarga harus segera pergi ke Berlin. Ada keluarga kami yang meninggal di sana. Surat ini kutulis di pesawat dan kukirim saat transit di Singapura. O, iya HP aku ilang kemarin lusa. Jadi nggak bisa telepon kamu dulu. Tapi waktu aku coba hubungin HP kamu pake HP nyokap, kok mailbox mulu. Tetaplah menungguku. Aku menyayangimu.
Yours,
Roy
Ria terbelalak mengetahui isi surat di tangannya. Dia buru-buru menyodorkannya pada Winta dan Diana. Dua sahabat itu tercengang kaget melebihi Ria. Jadi mana yang benar, Roy itu ada atau nggak?
"Elo nggak nyuruh sodara elo di Singapura ngirim surat palsu ini, kan?" selidik Winta.
"Gue nggak punya teman ataupun saudara di sana." Ria menggeleng kuat. Matanya menerawang ke langit-langit dengan bibir menyungging senyum.
Kali ini keyakinan Ria berubah lagi. Bukankah surat itu sudah cukup membuktikan, Roy kekasihnya memang benar-benar ada, bukan kekasih bayangan atau fantasi. Masih adakah yang meragukan hal itu? ©

BIODATA PENULIS
Benny Rhamdani, lahir di Bandung. Ia merupakan penulis senior, yang karyanya sudah tak terbilang jumlahnya, yang telah diterbitkan oleh berbagai media cetak nasional. Ia juga merupakan salah satu penulis cerita remaja yang paling banyak menjuarai LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novelnya pun sudah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional di Bandung dan Jakarta. Kini ia menjabat sebagai Editor in Chief pada Penerbit Mizan Publishing di Bandung.
by http://www.cafenovel.com/shortstory_kekasihbayangan.php

Epent Kah????


A.Rizky Awalia                   :               Saskia
Ervi Febriyanti                     :               Karin
Sulfiaty Laufe                      :               Rania
Nurul Hikmah Annisa           :               Sofie
Erna                                    :               Vera
Anggun Dwi Lestari             :               Wita
Rania     :               (Masuk ke dalam kelas dengan membanting pintu)
Sofie      :               Ada apa lagi sih Ran? BT sekaliqo ku liat ini hari
Rania     :               Ndag tau orang rumah. Masa pagi-pagi nasuruh me kaa bangun
Sofie      :               Loh? Bukan seharusnya memang begitu?
Rania     :               Iyya Sof, tapi coba kalau nasuruhka bangun untuk mandi trus siap-siap. Ini, malah                        nasuruhka pergi cuci mobil
Sofie     :               hahhaaaa…. Kasianmu itu.

Kesurupan Massal SMA Negeri 1 LILIRIAJA

BLuee Sastra Lovers... Hari ini SMANCHA bisa di bilang sekolah saya, kesurupan massal terjadi.... berawal dari kelas XII.IA.3, katanya Karena Seorang murid d kelas itu terlalu Over Dalam Berperilaku...

mungkn Penunggu di kelas itu merasa tergnggu akan tingkah murid2 di sana,.... siapa yang patut d salahkan akan kejadian ini...??? Ntar deh saya carikan Videonya dari teman-teman........



Sahabat Botak... M'f sya hany bisa membuat artikel singkat ini, couse, mendekat ke tempak kejadian ajha saya tahut... hihihihiii........!!!!!! m'f juga jika ada yang tak suka dengan postingan ini.... ass......

Surat Dari Kekasih

Untukmu yang selalu Kucintai, Saat kau bangun di pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadAKU., bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterimakasih kepadAKU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu.... Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja...

Tak sedikitpun kau menyadari AKU di dekat mu. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapAKU, tetapi engkau terlalu sibuk...
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melAKUkan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan datang kepadAKU, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekedar berbincang-bincang.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadAKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadAKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapAKU.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namAKU dengan lembut sebelum menyantap makanan yang Kuberikan, tetapi engkau tidak melAKUkannya.....

Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan AKU masih berharap engkau akan datang kepadAKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan….

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, AKU tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan, hingga waktu-waktu untukKu terlupakan…..
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namAKU dan berterimakasih atas makanan yang telah Kuberikan…..

Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namAKU kau sebut. Tidak apa-apa karena mungkin engkau masih belum menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.

AKU sangat menyayangim, setiap hari AKU menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah..... engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapAKU...
Tapi yang Kutunggu.... ah tak juga kau menyapAKU. Subuh, Dzuhur, Asyar, Magrib, Isya dan Subuh lagi kau masih mengacuhkan AKU.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, tak ada pula harapan dan keinginan untuk bersujud kepadAKU....

Apakah salahKu padamu...? Rizki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadAKU ???

Percayalah, AKU selalu menyayangimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapAKU, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu...Kembali kepadAKU..
Yang selalu menyertaimu setiap saat,
ALLAH SWT