“Maka apakah orang-orang yang membuat
Makar yang
jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah
bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak
mereka sadari…” (QS. An Nahl [16] : 45)
Sengaja saya membuka tulisan ini dengan satu ayat tersebut karena
tulisan yang saya link dari situs Islam
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/haarp-tsunami-jepang-dan-tanda-tanda-akhir-zaman.htm berikut
ini memang memiliki akar masalah dari ayat tersebut. Ya, sebuah Makar
besar yang sayangnya belum banyak kita ketahui atau mungkin memang
sengaja disembunyikan dari kita oleh pihak-pihak tertentu. Kita tentu
saja sangat berduka terhadap bencana maha dahsyat Tsunami di Jepang yang
hingga kini telah memakan ribuan korban. Namun ada satu hal yang hampir
luput dari perkiraan kita tentang peristiwa besar tersebut, yaitu
tentang muasal atau penyebab terjadinya musibah itu. Tulisan yang saya
link dari Eramuslim ini memang sebuah analisis yang tentunya membutuhkan
nalar dan fakta akurat agar benar-benar dapat diterima Justifikasinya,
namun satu hal yang pasti bahwa analisis ini juga patut dihargai karena
juga didukung beberapa fakta yang shahih. Nah, berikut ini adalah
Tulisan (yang berupa Hipotesa) yang tentunya dapat menjadi bahan diskusi
menarik bagi kita yang menginginkan atau tertarik dengan hal-hal yang
berbau konspirasi guna mengungkap fakta yang disembunyikan dari sebuah
peristiwa. Berikut artikelnya :
HAARP, Tsunami Jepang, dan
Tanda-tanda Akhir Zaman
Penulis tidak tahu mesti mulai dari mana ketika nama HAARP muncul
sesaat setelah Tsunami memporakporandakan daratan Jepang.
Penulis juga tidak mau memaksa terhadap hipotesa bahwa nama HAARP-lah
yang bermain dalam gelombang dahsyat tersebut sekaligus juga tidak
menampik bahwa HAARP ada di belakang ini semua.
Suatu ketika, petunjuk Allah yang akan menjawabkegelisahan dan rasa
penasaran kita semua.
Kita di sini sedang mendikusikan sebuah fakta tentang Kebangkitan
kedua Kapitalisme Marxis di Amerika Serikat (AS) yang bertindak
semena-mena terhadap negara lainnya.
Dan kedua kita juga sedang berbicara mengenai tanda-tanda akhir zaman
dimana semakin digdayanya globalisasi dunia ini menuju singgasana
kelahiran Sang Mata Satu, penulis namakan itu hampir sama dengan thesis
Ahmad Thompsom, Sistem Dajjal.
HAARP sendiri adalah singkatan dari
High Frequency Active Auroral
Research Program. Sebuah alat pengubah cuaca. Menara transmisi
HAARP terletak terpencil di daerah Alaska, dan dirancang sedemikian rupa
sehingga menghasilkan enerji yang sangat besar dan kemudian dipancarkan
ke lapisan ionosfer.
Namun benarkah HAARP yang notabene menjadi program senjata pemusnah
masal AS menjadi dalang untuk menghancurkan Jepang dan merebut senjata
nuklir Jepang?
Jepang, Sekutu AS?: Geopolitik
Asia Timur
Tidak pernah ada sekutu abadi bagi AS.
Bahkan Indonesia sekalipun. Era kemenangan Demokrasi Liberal, seperti
thesis Fukuyama adalah jalan untuk sebuah negara menginjak negara lain.
Era bagi sebuah kekuatan asing yang terus membangun kedigdayaannya
dengan cara berbohong, membohongi konsumennya.
Konstelasi politik Asia Timur diramaikan pada persengkataan antara
kekuatan nuklir dan militer di antara banyak negara. Jepang sebagai
bagian Negara super power Asia, memiliki investasi nuklir yang bisa
menjadi bom waktu bagi siapa saja, termasuk AS. Ini karena Jepang sejak
era Perang Dunia II telah memiliki sarana dan prasana yang baik untuk
mengembangkan program nuklir, sekalipun tidak begitu berhasil.
Melihat gejala ini, kita tidak lagi bicara bahwa Jepang selama ini
adalah sekutu bagi AS. Sekali lagi penulis ingin menekankan tidak ada
istilah sekutu bagi mereka. Dalam wilayah kapitaslime global, kekuatan
dan uang adalah mitra sesungguhnya.
Menguasai teknologi nuklir secara masif akan mendongkrak kekuatan
suatu negara menjadi negara powerful yang memiliki bargaining dengan
kekuatan politik lainnya.
Surwandono, salah seorang pemerhati Hubungan Internasional di
Yogyakarta, menyatakan bahwa dengan penguasaan teknologi nuklir,
setidaknya negara besar yang selama ini bisa mendikte perilaku politik
negara kecil, akan berfikir dua sampai tiga kali.
Sedikit gambarannya saja bahwa kemampuan rudal Korea Utara sudah
dalam kapasitas rudal jarak jauh bahkan antar benua. Inilah yang menjadi
ketakutan Amerika dan Korea.
Kepentingan AS terhadap nuklir Jepang sangat terasa pasca era millennium
baru saat ini.
Inilah yang membuat AS merasa memiliki kepentingan berarti pasca
meledaknya reaktor nuklir Jepang setelah Tsunami menghempas. Bayangkan
saja bagaimana kesigapan Gedung Putih melihat tragedi ini.
Minggu kemarin, Gedung Putih, seperti dilansir kantor berita Antara,
telah mengirimkan para pakar ke reaktor-reaktor nuklir di Jepang. Dua
reaktor di negara itu telah mengalami kerusakan akibat gempa bumi besar
dan menghadapi kebocoran.
Dalam sebuah pernyataannya, Gedung Putih pun mengatakan bahwa Tim
Tanggap Bantuan Bencana telah dikirimkan ke Tokyo. Tim ini termasuk
petugas berkeahlian nuklir dari Departemen Energi dan Kesehatan dan
Sumber Daya Manusia di samping Komisi Peraturan Nuklir (NRC). Para
anggota NRC adalah pakar dalam reaktor nuklir air panas dan bersedia
untuk membantu rekan-rekan mereka di Jepang.
Para pejabat dari Departemen Energi, NRC, dan lembaga lain telah
mengadakan kontak dengan pejabat-pejabat Jepang di Fukushima dan akan
memberikan bantuan apapun bagi permintaan pemerintah Jepang, karena
mereka bekerja untuk menstabilkan reaktor nuklir mereka yang rusak.
NRC juga telah menyiarkan informasi yang menyatakan bahwa Hawaii,
Alaska, Amerika Serikat dan Wilayah Pantai Barat AS tidak diharapkan
untuk mengalami tingkat radioaktivitas berbahaya. Amerika Serikat dan
Jepang keduanya memiliki kemampuan yang sangat canggih untuk memantau
dan memprediksi aliran dari setiap kebocoran radioaktif, menurut laporan
media AS.
Inilah invasi besar-besaran yang bisa jadi menjadi misi sesungguhnya
Amerika dalam tsunami Jepang saat ini. Alih-alih ingin membantu, AS
telah mempelajari skema reaktor kuklir Jepang yang kelak jika tidak
diwaspadai bisa menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Melihat ini semua, kita layaknya sedang melihat bahwa AS sudah
seperti negara paling berkepentingan sekaligus paling panik dibanding
dengan Jepang sendiri melihat kasus kebocoran nuklir di Fukushima.
Peter Bradford misalnya,Kepala Komisi Regulator Nuklir AS, ini
mengatakan bahwa jika upaya pendinginan reaktor gagal, maka situasi di
Fukushima menjadi mirip seperti di Chernobyl, Ukraina.
Bradford menjelaskan bahwa dua kecelakaan nuklir terburuk dalam
sejarah terjadi pada bencana Chernobyl pada tahun 1986 dan ledakan
reaktor Three Mile Island di AS pada tahun 1979 dan itu bisa terulang di
Jepang.
Namun terlepas dari itu semua, kita juga harus melihat apa motif
sebenarnya Jepang memiliki nuklir? Apakah misi Jepang sesungguhnya
ketika berniat memiliki teknologi hebat ini mengingat para ahli juga
pernah mengatakan bahwa Jepang tidak begitu berhasil melangsungkan
proyek nuklir.
Jawabannya tidak lain karena Jepang ingin mengantisipasi jika
dikemudian hari AS tidak berhasil mengatasi persoalan Korea Utara dengan
baik.
Dodik Ariyanto dalam tulisannya “Era Baru Perang Bintang”, mengatakan
bahwa Provokasi Kim Jong II, khususnya sejak uji-coba Taepodong II Juli
2006, telah menyulut kekhawatiran luas di Jepang bahwa payung keamanan
AS yang dipadu dengan kemampuan peralatan yang ada saat ini, sangat
tidak memadai guna melindungi Jepang seandainya Kim gelap mata.
Kekhawatiran tersebut jelas sekali ketika tahun Jepang kemudian
mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ia punya hak melakukan setiap
antisipasi menghadapi perkembangan terakhir di Korut. Selain alokasi
$1,9 milyar untuk teknologi rudal pada anggaran 2007.
Kita tahu bersama bahwa tidak ada satu negarapun yang tahu persis apa
yang sedang mereka pikirkan masing-masing, serta apa yang akan
dilakukan oleh negara lainnya jika ada sebuah skenario sedang tersusun
rapih.
Akhirnya, setiap negara dipaksa untuk berpikir bahwa perilaku
tetangganya dapat setiap saat menjadi ancaman baginya, sehingga tersedia
pilihan sikap yang sama persis menyangkut keamanan nasionalnya, yaitu :
1). aktif bekerjasama dan tidak bersenjata ; 2) bersenjata sementara
negara lain tak bersenjata ; 3) semua bersenjata dengan kemungkinan
terjadinya perang, dan ; 4) tidak bersenjata sementara negara lain
bersenjata.
Jadi, sebenarnya AS di satu sisi diuntungkan oleh meledaknya reaktor
nuklir Jepang dan mereka memiliki kelegaan dimana kekuatan “calon
musuhnya”, suatu ketika sudah terbaca mengingat berbagai perangkat pakar
nuklir AS telah meindentifikasi titik pergerakan reaktor nuklir saat
ini. Lalu inikah indikasi kuat bahwa AS ada dibalik Tsunami ini?
HAARP dan Kasus Tsunami Jepang:
Sebuah Diskusi
HAARP sebenarnya adalah proyek
investigasi yang bertujuan untuk memahami, menstimulasi, dan mengontrol
proses ionospherik yang dapat mengubah kinerja komunikasi dan
menggunakan sistem surveilans. HAARP mulai dikemangkan pemerintah AS
pada tahun 1992 dan ditargetkan rampung pada tahun 2012.
Menurut salah sebuah sumber, cara kerja HAARP adalah dengan
memanaskan ionosphere yang ada di langit. Hal ini dapat memanipulasi
keadaan langit disekitarnya, sehingga pada masa percobaan dapat terjadi
suatu hal yang tidak diinginkan misalnya terjadi badai, gempa bumi,
gangguan sinyal dan lain-lain.
Caranya dengan menentukan satu titik lokasi ionosphere yang akan
dipanaskan, lalu tekanan yang berada di atmosfer juga akan naik. Maka
tekanan yang terbentuk dikumpulkan di satu titik dan terbentuklah
manipulasi jetstream).
Namun menurut sebagian kalangan, ada sesuatu yang lebih besar sedang
dilakukan di tempat ini, yaitu pengembangan senjata pemusnah massal.
HAARP disebut mampu menciptakan banjir dengan memanipulasi penguapan
air, mampu menciptakan badai dan bahkan gempa bumi.
Dengan kemampuan ini, tentu saja itu berarti Amerika akan mampu
menciptakan bencana kelaparan di wilayah yang diinginkannya. Projek ini
menurut sebagian kalangan bertanggungjawab terhadap beberapa peristiwa
gempa besar, seperti gempa bumi 7,8 skala Richter (SR) di Sichuan China
12 Mei 2008, gempa bumi 7,0 SR di Haiti 12 Januari 2010, dan gempa bumi
8,8 SR di Chile 27 Februari 2010.
Ketika Haiti diguncang gempa bumi berkekuatan 7,0 SR pada 12 Januari
2010 dan menewaskan sekitar 200.000 orang, banyak media massa yang
melansir pernyataan Presiden Hugo Chavez kepada surat kabar Spanyol ABC.
Dalam berita disebutkan pemimpin Venezuela itu menuduh AS menyebabkan
kehancuran di Haiti dengan menguji coba “senjata tektonik”. Hal ini
kontak memicu media massa Venezuela untuk melaporkan bahwa gempa bumi
ini terkait dengan projek HAARP yang dapat menghasilkan perubahan iklim
yang tak terduga dan keras.
Sebuah laporan Amerika berada di balik Tsunami Jepang memang sempat
menuju titik terang. Seperti dikutip dari situs
http://www.atlanteanconspiracy.com/2011/03/japan-tsunami-caused-by-haarp.html.
Terlihat ada grafik peningkatan pergerakan elektromagnetik saat sebelum
HAARP diaktifkan dan 36 jam pasca tsunami.
Namun kita ketahui bersama indikasi HAARP tidak saja berada pada
level eletktromagenitik, namun juga penampakan aurora di sekitar langit
seperti pada kasus gempa Chile. Ini yang mesti dibuktikan.
Aurora sendiri merupakan fenomena pancaran cahaya yang menyala-nya
pada lapisan Ionosfer (bagian Atmosfer yang terionisasi oleh radiasi
matahari) suatu planet akibat interaksi medan magnetik planet tersebut
dengan partikel bermuatan (ion) yang dipancarkan matahari.
Tanda-tanda Akhir Zaman
Terlepas dari diskusi itu, terjadinya
gempa secara beruntun baik di Chile, Haiti, New Zealand, dan kini Jepang
menandakan baak baru tanda-tanda akhir zaman. Rasulullah SAW pernah
bersabda, “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sehingga kamu
melihat sepuluh tanda . . . ” Kemudian baginda menyebut antara lain “dan
tiga gempa bumi iaitu gempa di wilayah timur, di wilayah barat dan di
Jazirah Arab.” (Shahih Muslim Syarah Nawawi 18:27 – 28)
Di hadits yang lain, juga pernah ada nubuwah serupa. Dari Ummu
Salamah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“ Sesudahku nanti
akan terjadi gempa bumi di Wilayah Timur, gempa bumi di wilayah Barat
dan gempa bumi di Jazirah Arab.” Saya bertanya,” Wahai Rasulullah saw
apakah bumi akan digempakan padahal di dalamnya masih ada orang-orang
yang saleh?” baginda menjawab, “ Apakala penghuninya telah banyak
melakukan keburukan.”
Sebagai umat Islam, kejadian ini haruslah menjadi media kita untuk
meningkatkan iman kepada Allahuta’la. Gempa dan tsunami adalah refleksi
bahwa ujian dan peringatan betapa sombongnya manusia dunia dan betapa
kemaksiatan sudah merajalela di muka bumi.
Jepang, Negara penyembah matahari itu tidak berdaya apa-apa ketika
jutaan mobil produksi mereka hancur tak bersisa. Kehebatan mereka dalam
ilmu geologi pun menjadi tidak bisa berfungsi ketika Allahuta’ala
menetapkan ketetapannya.
Kemaksiatan yang perlu menjadi renungan kita semua adalah tidak lain
sebuah kesombongan berupa pemujaan terhadap sains dan teknologi melebihi
proposrsi sebenarnya. Sains bahkan telah menggantikan peran
Allahuta’ala sebagai penentu hukum alam.
Bahkan tidak hanya menampik hukum buatan Allah, namun HAARP sendiri
jika memang betul berada dibalik ini semua, justru diciptakan oleh
sebuah bangsa yang sudah menjadikan Sang Mata Satu sebagai
sesembahannya.
Dan inilah bencana sesungguhnya, bencana dimana kita tidak lagi
mengakui Allah sebagai Rabb.
Wallahua’lam
Demikian artikel menarik yang saya
Link dari Eramuslim.com .
Semoga semakin membuka wawasan dan kesadaran kita bahwa segala sesuatu
yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua ada muasalnya,
semua ada pemicunya, setiap yang berujung pasti berpangkal itulah
kaidah ilmiahnya. Dan Tsunami di Jepang ini adalah ujung dari peristiwa
yang memiliki sebuah pangkal penyebab di awalnya. Entah itu teguran
Allah semata atau memang mungkin sesuatu yang direncanakan jauh-jauh
hari oleh pihak-pihak tertentu, Wallahu A’lam, namun yang jelas para
manusia JAHAT yang merupakan para musuh Tuhan dan Musuh Kemanusiaaan
memang memiliki seribu cara keji guna meng-goal-kan tujuan mereka.
Inilah Konspirasi/makar besar yang harus kita kupas secara tuntas jika
kita ingin mengetahui siapa DALANG besar di balik semua peristiwa besar
di dunia ini, termasuk peristiwa Tsunami di negeri Maria Ozawa saat ini.
“Dan sesungguhnya mereka telah membuat Makar yang besar padahal di
sisi Allah-lah (balasan) makar
mereka
itu. Dan sesungguhnya makar
mereka
itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS.
Ibrahim [14] : 46)
by
Musyafucin