Sabtu, 04 Desember 2010

Epent Kah????


A.Rizky Awalia                   :               Saskia
Ervi Febriyanti                     :               Karin
Sulfiaty Laufe                      :               Rania
Nurul Hikmah Annisa           :               Sofie
Erna                                    :               Vera
Anggun Dwi Lestari             :               Wita
Rania     :               (Masuk ke dalam kelas dengan membanting pintu)
Sofie      :               Ada apa lagi sih Ran? BT sekaliqo ku liat ini hari
Rania     :               Ndag tau orang rumah. Masa pagi-pagi nasuruh me kaa bangun
Sofie      :               Loh? Bukan seharusnya memang begitu?
Rania     :               Iyya Sof, tapi coba kalau nasuruhka bangun untuk mandi trus siap-siap. Ini, malah                        nasuruhka pergi cuci mobil
Sofie     :               hahhaaaa…. Kasianmu itu.

Kesurupan Massal SMA Negeri 1 LILIRIAJA

BLuee Sastra Lovers... Hari ini SMANCHA bisa di bilang sekolah saya, kesurupan massal terjadi.... berawal dari kelas XII.IA.3, katanya Karena Seorang murid d kelas itu terlalu Over Dalam Berperilaku...

mungkn Penunggu di kelas itu merasa tergnggu akan tingkah murid2 di sana,.... siapa yang patut d salahkan akan kejadian ini...??? Ntar deh saya carikan Videonya dari teman-teman........



Sahabat Botak... M'f sya hany bisa membuat artikel singkat ini, couse, mendekat ke tempak kejadian ajha saya tahut... hihihihiii........!!!!!! m'f juga jika ada yang tak suka dengan postingan ini.... ass......

Surat Dari Kekasih

Untukmu yang selalu Kucintai, Saat kau bangun di pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadAKU., bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterimakasih kepadAKU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu.... Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja...

Tak sedikitpun kau menyadari AKU di dekat mu. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapAKU, tetapi engkau terlalu sibuk...
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melAKUkan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan datang kepadAKU, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekedar berbincang-bincang.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadAKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadAKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapAKU.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namAKU dengan lembut sebelum menyantap makanan yang Kuberikan, tetapi engkau tidak melAKUkannya.....

Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan AKU masih berharap engkau akan datang kepadAKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan….

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, AKU tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan, hingga waktu-waktu untukKu terlupakan…..
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namAKU dan berterimakasih atas makanan yang telah Kuberikan…..

Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namAKU kau sebut. Tidak apa-apa karena mungkin engkau masih belum menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.

AKU sangat menyayangim, setiap hari AKU menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah..... engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapAKU...
Tapi yang Kutunggu.... ah tak juga kau menyapAKU. Subuh, Dzuhur, Asyar, Magrib, Isya dan Subuh lagi kau masih mengacuhkan AKU.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, tak ada pula harapan dan keinginan untuk bersujud kepadAKU....

Apakah salahKu padamu...? Rizki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadAKU ???

Percayalah, AKU selalu menyayangimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapAKU, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu...Kembali kepadAKU..
Yang selalu menyertaimu setiap saat,
ALLAH SWT 

Minggu, 28 November 2010

Putih, Putih, Putih


Meratap bagai bayi
terkapar bagai si tua rentah
di padang mahsyar
di padang penantian
di depan pintu gerbang janji keabadian
saksikan beribu-ribu jilbab
hai! bermilyar-milyar jilbab
samudera putih
lautan cinta kasih
gelombang sejarah
pengembaraan amat panjang
di padang mahsyar
menjelang hari perhitungan
…
Dan alam raya
Jagat segala jagat
Bintang-bintang dan ruang kosong
Mendengar panggilan itu
Dengan telinga ilmu seratus abad:
Wahai jiwa bening!
Wahai mutmainnah
Kembalilah kepada Tuhanmu.

Dengan rela dan direlakan
Masuklah ke pihakku
Masuklah ke surgaku
Wahai jiwa
Wahai yang telah jiwa
Wahai telaga
Yang hening
Hingga tiada!
Karya Rohani Amin

Selasa, 23 November 2010

My best Uncle forever

     Dia adalah A.Munir Pammu. Bagiku beliau adalah sosok pemuda yang tenang, bijaksana dan adil pada semua anggota keluarganya. Memang dariku tak banyak yang bisa ku ceritakan karena semasa hidupnya Aku pun tak begitu akrab dengannya. namun saat sepeninggalnya, Aku tanpa terasa meneteskan air mata. Tak tau mengapa demikian, namun Aku merasakan kepergian dan kesedihan yang teramat dalam atas kepergian beliau. Ia meninggal karena perlakuan orang-orang yang iri disekitarnya.

     Semua itu berawal dari pekerjaannya disalahsatu koperasi milik negara. Ia dipercayakan untuk memegang jabatan yang sangat penting dikoperasi tersebut, entah jabatan apa itu. Umurku masih berkisar 7 tahunan saat itu, maka dari itu Aku belum tau banyak tentang jabatan. Akibat hal tersebut, banyak orang-orang yang iri dengannya. Sehingga pada suatu waktu Ia dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi. Ia difitnah oleh teman karibnya sendiri bahwa Ia telah menyembunyikan uang koperasi entah berapa jumlahnya. Yang jelas seingatku uang itu dalam jumlah angka yang besar sehingga semua anggota keluargaku dirundung masalah pada saat itu. Aku yang masih terbilang anak-anak hanya dapat menjadi antena, mendengarkan cerita orang-orang yang ada disekelilingku.

      Terdengar suara tangisan yang sebenarnya tidak seharusnya ada. Omku akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi untuk menerima hukuman yang sebenarnya tak seharusnya Ia jalani. Ia lebih memilih dipenjara daripada harus membuat susah keluarganya. Sungguh sosok yang sangat mulia.

      Berkisar 1 bulanan Ia dipenjara. Suatu hari orang yang selama ini tidak dicurigai sama sekali datang mengunjungi beliau. Ia datang dengan tangan yang menenteng rantang berisikan makanan khas bugis. Makanan tersebut juga termasuk makanan favorite beliau. Selang dua hari dari pengunjungan tersebut, Om ku jatuh sakit. Ia segera diberikan pertolongan pertama oleh RS Bayangkara. Dokter yang bertugas di RS tersebut memponis bahwa dirinya mengidap penyakit DBD. Gejala awal beliau hanya muntah-muntah, namun selang dua hari badannya mulai membengkak dan kukunya coklat kehitam-hitaman.

Kata-kata beliau yang sampai sekarang masih terngiang yaitu ketika Ibuku bertanya padanya "Kapanqi kira-kira keluar dari sini pung?" Beliau menjawab "InsyaAllah hari selasa saya keluar dan hari Rabu sayya bebas". Dan apa yang terjadi? beliau keluar dari penjara pada hari Selasa dan meninggal dunia pada hari Rabu tepat satu hari setelah malam hakikah adik bungsuku. Bahkan beliau belum sempat melihat wajah adikku seperti apa.

     Setelah diusut oleh polisi, ternyata akibat kematian Omku adalah keracunanan makanan. Dan ternyata yang meracuni dan memfitnah beliau adalah teman karibnya tersebut.
I Miss U Om.. :')

Senin, 22 November 2010

Kasih Yang Murni

Karya : San2

      “Seharian aku disini ………………..kehujanan” jerit seorang pengemis. Kupalingkan wajah sesaat. Dasar pengemis tua, gerutuku. Aku sendiri kelaparan, kehujanan dan lain-lain. Namun aku masih berusaha sabar.


***

Kota Bandung memang dingin., sedingin jiwaku. Kota ini begitu kejam, entah sudah berapa lama aku terkatung-katung. Kuliahku berantakan, dan aku tidak punya uang sepeserpun. Ingin sekali aku pulang. Aku merindukan pempek serta bau cuka yang khas. Aku kangen pada tampang garang orang Palembang. Terutama bicara yang ketus, dan tanpa basa-basi. Yach, meskipun sikap mereka kasar dan to the point, tapi kelembutan hati mereka tiada terkira.


Aku rindu Ayah, Ibu dan Kak Bobby serta Mily, adikku. Tapi sebuah musibah terjadi telah merenggut orang-orang yang kusayangi serta kebahagiaanku. Kejadian yang sungguh menyakitkan. Ketika itu aku berada di Bandung, sedangkan keluargaku sedang jalan-jalan ke daerah Indralaya (masih berada di daerah Sumsel). Tanpa diduga mobil ayah dihantam sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Ibu dan Milli meninggal dunia dan ayah bisa diselamatkan walaupun sempat koma dan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Sedangkan Kak Bobby tidak ikut dalam perjalanan tersebut, sehingga ia baik-baik saja.

Kepedihan yang mendalam masih tersisa. Walau duka menyelimuti, aku tetap bertahan kuliah di Bandung. Setahun, kiriman masih lancar. Tapi kemudian kiriman mulai tersendat, dan sampai akhirnya tidak ada kiriman dana lagi. Beberapa kali aku mengirim surat tapi tak juga dibalas. Sedangkan telepon tidak pernah nyambung. Komunikasi dengan keluarga Palembang benar-benar terputus. Sampai akhirnya aku terkatung-katung dan tidak bisa kembali ke Palembang.

***

Tadi ibu kost datang untuk menagih. Ia sudah berbaik hati membiarkan aku tinggal selama 3 bulan tanpa membayar ditambah tunggakan 3 bulan sebelumnya. Ia juga manusia dan perlu uang. Aku menyadari hal tersebut.

Aku pun pergi dengan satu koper dan sebuah ransel. Hatiku menangis, teriris, pedih. Inilah hidup yang sebenarnya. Ingin kembali ke masa dulu, dimana ada kehangatan, keluarga yang lengkap dan masalah yang selalu bisa diselesaikan bersama-sama. Aku menyesal sekali, kenapa aku memilih kuliah di Bandung? Kenapa tidak kuliah di Palembang saja? Kenapa tidak mengikuti saran Ibu untuk bekerja?

Nasi telah jadi bubur. Aku menggigit lidah yang kelu. Seharusnya aku bisa menjadikan bubur tersebut menjadi bubur ayam. Tapi aku lemah, tanpa support keluarga, tanpa dukungan seseorang.

***

Hari ini aku ke kampus. Aku cuma jalan-jalan untuk menemui sahabat-sahabat karena aku belum membayar uang semesteran jadi tidak mungkin aku bisa masuk ke kelas. Disana ada Cika, Elen, dan Giri.
“Erin, kemana aja loe?” Tanya Elen cemas. Aku tersenyum dipaksakan.
“Aku mau balik ke kampung halaman.” Jawabku berbohong.
“Beneran nih? Wajah loe pucat banget, Rin. Loe nambah kurusan.”kata Cika. Jika mereka mengetahui nasibku, mereka pasti tidak segan-segan untuk membantu. Tapi aku takut jatuh ke lembah yang sama seperti mereka. Mereka sering keluar masuk hotel bersama om om. Namun hanya mereka yang menghargaiku sebagai sahabat. Yang lain mencemoohku sebagai gadis kampungan.
“Rin, coba aja kamu gak nolak tawaran Om Danu waktu tuh, nasibmu gak bakal susah. Kiriman dari bokap tuh kagak ada gunanya:” sahut Giri.
“Maap, aku mau ke perpus.” Kataku tanpa mengindahkan perkataan Giri.
Mereka menatap kepergianku dengan kecewa.

***

“Rin….”Cika mengejarku.
“Ada apa?” tanyaku. Ia berdiri disampingku. Lalu kami duduk di taman.
“Rin, gua tau loe lagi ada masalah keuangan…” Cika menatapku ragu-ragu, tampaknya ia takut menyinggung perasaanku. Aku hanya membisu. Sesungguhnya masalah yang paling kukhawatirkan adalah keluarga. Aku merindukan Ayah dan Kak Bobby, Ibu dan Milly juga.
“Jadi rin, gua mau kasih loe sebuah bisnis. Tapi plis jangan kasih tau yang lain, Giri dan Elen juga.”
“Bisnis apa? Jualan?”sambarku.
“Bukan yang kayak gitu tapi……”ia membisikkan ke telingaku.
“APA???? COWOK????” jeritku.
“Pelan-pelan donk,” ia menutup mulutku.
“Aku kan sudah pernah bilang, kalo aku gak mau melakukan hal-hal seperti itu, Cik.”


***

“Loe tau Kiran kan?” Tanya Cika
“Cowok tajir yang belagu itu kan” jawabku. Cika mengangguk.
“Dia berani membayar duit sepuluh juta kalo loe mau pergi sama dia ke villa keluarganya selama tiga hari.”
“Gila kamu, Cik. Kamu mau jual aku pada cowok itu?” kataku marah.
“Bukan seperti yang loe pikirkan, Rin. Dia gak bakal berbuat yang macem-macem deh.” Janji Cika.
“Gak mau. Dia bisa merekayasa semuanya. Tapi aku tidak akan tertipu.” Cetusku dengan emosi sambil meninggalkan Cika.


***

Sambil menyusuri jalan, aku menahan tangis. Tak kusangka, Cika berani menawarkan hal seperti itu kepadaku. Padahal diantara sahabatku, dia yang paling menghormati prinsipku. Walaupun dibayar satu milyar, lebih baik aku mati daripada harus jual diri.
Aku tak punya harta yang berharga. Tapi kebanggaanku adalah aku belum berubah, aku tetap Erin yang lugu dan polos. Entah bagaimana nasibku selanjutnya. Yang kutahu, rizki dan takdirku ada di tangan Yang Maha Kuasa.
Sebuah sedan mengiringi langkahku, dan perlahan-lahan berhenti. Kaca jendelanya terbuka.
“Rin, bisa kita bicara?” Tanya Kiran. Ehmmm…dia mau apa? Apakah dia kira aku menerima tawarannya. Aku terus melangkah. Kiran keluar dari mobil dan menarik tanganku.
“Mau apa kamu?”tanyaku keras.
“Sebentar aja, Rin.” Ia memegang tanganku dengan erat dan mendorong tubuhnku secara paksa masuk ke mobil.


***

“Cika uda cerita?” Tanyanya tanpa basa-basi.
“Iya dan aku menolaknya.” Jawabku ketus.
“Kenapa, rin? Bukannya kamu lagi perlu uang?”
“Siapa yang bilang? Aku ini gadis baik-baik.” Kataku dengan jelas.
Ia menatapku sambil tersenyum.
“Justru karena kamu gadis baik-baik makanya aku memilih kamu.” Jawab Kiran.
“Ohhhhh….jadi kamu mencari mangsa pada gadis lugu.”
“Rin…kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku janji aku tidak akan menyentuhmu bahkan sehelai rambutpun.”
“Sebenarnya mau kamu apa, Kiran?”
“Aku cuma mau memperkenalkan kamu sebagai pacarku pada orang tuaku.” Jawab Kiran.
“Cuma itu?” tanyaku berusaha mencari celah dari niat Kiran sebenarnya.
“Oke, jika kamu tidak percaya, nih ambil” dia melemparkan sesuatu ke tanganku. Aku menjerit  tertahan karena terkejut.
“Ambil ini dan simpan. Jika aku lupa pada janjiku, Maka tusuklah aku dengan pisau itu.” Ucapnya yakin. Aku memandang pisau lipat yang ia berikan kepadaku.
“Gimana?” Kiran meminta kepastian dariku.
“Baiklah, tapi tiga puluh juta.” Jawabku dengan tegas.

***

Minggu, 21 November 2010

Standar inter"nasi"onal


Kisahnya dimulai saat Diah dan Ayu sedang mengobrol bersama di dalam kelas saat istirahat.  Tiba - tiba bel berbunyi dan Bu Helly yang akan mengajar pun masuk.  Sesumpek apapun pelajaran Bu Helly, Diah dan Ayu akan mendengar tanpa mencatat.  Di akhir jam pelajaran. "Anak - anak, sebentar lagi sekolah kalian akan diubah menjadi Sekolah bertaraf internasional.maka dari itu, ibu minta kalian dapat berbahasa inggris fasih dan lancar untuk dipakai di kehidupan sehari - hari.  Mengerti?" kata Bu Helly. Akhirnya bel tanda pelajaran Bu Helly selesai dan saatnya pelajaran Bu Shinta.  Lima menit, Sepuluh menit.  Bu Shinta belum juga datang.  Ketua kelaspun mencari Bu Shinta dan dapat jawaban dari guru lain bahwa suami Bu Shinta sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Ketua kelas segera menuju ke kelas.  Sesampainya dikelas. "Teman - teman, Bu Shinta gak masuk." Kata Ketua kelas muram. Sesaat semua diam. Satu kelas saling memandang satu sama lain. Tiba - tiba "Horeeeeeeee!!!!!!" Semua bersorak sambil berjingkrak.  Sambil mengisi waktu yang kosong, Diah dan Ayu bercanda bersama.  Mereka adalah sahabat serta teman sebangku yang kompak. "Yu, kita terapkan bahasa inggris yuk!" ajak Diah.  Ayu mengangguk setuju.  Ayu yang agak lemot mikirnya ini tiba - tiba berkata "buat apa, di?." , "Ya ampun Ayu, tadi kan dibilangin sama Bu Helly, sekolah kita sebentar lagi jadi standar internasional ni..." jawab Diah sambil menghela nafas. Diah pun memulai percakapan. "Good afternoon, Ayu. Have you finished your homework?" kata Diah. Ayu terkejut dan berpikir sampai mengerutkan keningnya. Bingung nya terlihat jelas dari bibirnya yang merengut ke arah kiri. Diah tertawa geli melihat sahabatnya yang "telmi" itu. Tiba - tiba Ayu berkata sambil menampilkan wajah sumringah "Good afternoon, Diah. Homework Ayu finished. Kalo homework Diah? how?" . Sejenak Diah meminta pengulangan kata - kata tersebut. Namun masih kurang jelas. Akhirnya Diah meminta Ayu menulisnya. Belum saja Ayu memberi tanda titik di tulisannya, Diah yang membacanya sudah tertawa ngakak hingga seisi kelas mendengarnya.Ayu yang heran dan bingung hanya bengong menampilkan wajah anehnya.Pulang sekolah, Diah dan Ayu mampir dulu ke warung nasi Mbak Tika yang nggak jauh dari sekolah mereka. Mereka makan siang bersama dengan nasi goreng buatan Mbak Tika. "Mbak, tadi lucu deh. Waktu pelajarannya Bu Shinta, kan bu Shintanya gak ada. Kita main percakapan bahasa inggris....,"  Diah menceritakannya begitu jelas hingga Mbak Tika ikut ngakak bersama Diah. Mbak Tika seorang tamatan SMP disekolah yang sama dengan Diah dan Ayu. Ia tamat di SMP karena harus mengurus adik - adiknya karena sang ibu menjadi TKI di Taiwan,sedangkan ayahnya telah meninggal dunia. Mbak Tika hanya berbeda 3 tahun dari Diah dan Ayu. Mbak Tika selalu meminta pengalaman mereka seharian bersekolah kepada Diah dan Ayu saat mereka mampir untuk makan. Tiba - tiba mbak Tika bertanya " Ayu, kalau bahasa inggrisnya nasi goreng itu, apa?" . "Ah, itu mah gampang Mbak, nenek Ayu juga tau." Jawab Ayu sok tau. Diah balik bertanya, "Emang apaan, Yu?. "Hmmm...Rice goreng!" Jawab Ayu. Sentak Diah dan Mbak Tika kembali tertawa ngakak. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ayu pun marah dan cemberut. "Kok diketawain sih! emang salah apa?" kata Ayu membentak. Diah yang masih sakit perut karena tertawa terlalu banyak menenangkan Ayu. "Ayu, Rice emang bahasa inggrisnya nasi, kamu betul sih." kata Diah. "Trus, berarti Ayu betul donk. Kok diketawain sih?Aneh ni kalian." Bela Ayu sambil membentuk garis miring di dahinya dengan jarinya. Diah dan Mbak Tika tidak terima dibilang aneh plus 'sinting', jadi mereka mencubit pipi Ayu. "Eh, kok malah cubit - cubit sih!Ayu tanya, yang salah itu apa?" tanya Ayu marah. Tiba - tiba wajah Diah dan Mbak Tika merah "GORENG ITU BAHASA INGGRISNYA FRY, AYU! KALO NASI GORENG ITU FRIED RICE!!!!!!" Teriak Diah dan Mbak Tika marah. Ayu yang merasa salah segera menaruh uang lima ribuan di atas meja sambil mengambil ancang - ancang untuk kabur dari amukan Diah dan Mbak Tika. Kaburrrr!!! "Heh, jangan kabur kamu Ayu!" Teriak Mbak Tika. "Kemari kamu Ayu!!!" terik Diah menyambung teriakan Mbak Tika. Ayu lari terbirit - birit sambil direnteti teriakan dari Diah dan Mbak Tika. Ckckck...Ayu, Ayu...(geleng - geleng
by ADMIN
http://cerpen.net/cerpen-lucu/gilanya-bahasa-inggris.html