Selasa, 23 November 2010

My best Uncle forever

     Dia adalah A.Munir Pammu. Bagiku beliau adalah sosok pemuda yang tenang, bijaksana dan adil pada semua anggota keluarganya. Memang dariku tak banyak yang bisa ku ceritakan karena semasa hidupnya Aku pun tak begitu akrab dengannya. namun saat sepeninggalnya, Aku tanpa terasa meneteskan air mata. Tak tau mengapa demikian, namun Aku merasakan kepergian dan kesedihan yang teramat dalam atas kepergian beliau. Ia meninggal karena perlakuan orang-orang yang iri disekitarnya.

     Semua itu berawal dari pekerjaannya disalahsatu koperasi milik negara. Ia dipercayakan untuk memegang jabatan yang sangat penting dikoperasi tersebut, entah jabatan apa itu. Umurku masih berkisar 7 tahunan saat itu, maka dari itu Aku belum tau banyak tentang jabatan. Akibat hal tersebut, banyak orang-orang yang iri dengannya. Sehingga pada suatu waktu Ia dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi. Ia difitnah oleh teman karibnya sendiri bahwa Ia telah menyembunyikan uang koperasi entah berapa jumlahnya. Yang jelas seingatku uang itu dalam jumlah angka yang besar sehingga semua anggota keluargaku dirundung masalah pada saat itu. Aku yang masih terbilang anak-anak hanya dapat menjadi antena, mendengarkan cerita orang-orang yang ada disekelilingku.

      Terdengar suara tangisan yang sebenarnya tidak seharusnya ada. Omku akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi untuk menerima hukuman yang sebenarnya tak seharusnya Ia jalani. Ia lebih memilih dipenjara daripada harus membuat susah keluarganya. Sungguh sosok yang sangat mulia.

      Berkisar 1 bulanan Ia dipenjara. Suatu hari orang yang selama ini tidak dicurigai sama sekali datang mengunjungi beliau. Ia datang dengan tangan yang menenteng rantang berisikan makanan khas bugis. Makanan tersebut juga termasuk makanan favorite beliau. Selang dua hari dari pengunjungan tersebut, Om ku jatuh sakit. Ia segera diberikan pertolongan pertama oleh RS Bayangkara. Dokter yang bertugas di RS tersebut memponis bahwa dirinya mengidap penyakit DBD. Gejala awal beliau hanya muntah-muntah, namun selang dua hari badannya mulai membengkak dan kukunya coklat kehitam-hitaman.

Kata-kata beliau yang sampai sekarang masih terngiang yaitu ketika Ibuku bertanya padanya "Kapanqi kira-kira keluar dari sini pung?" Beliau menjawab "InsyaAllah hari selasa saya keluar dan hari Rabu sayya bebas". Dan apa yang terjadi? beliau keluar dari penjara pada hari Selasa dan meninggal dunia pada hari Rabu tepat satu hari setelah malam hakikah adik bungsuku. Bahkan beliau belum sempat melihat wajah adikku seperti apa.

     Setelah diusut oleh polisi, ternyata akibat kematian Omku adalah keracunanan makanan. Dan ternyata yang meracuni dan memfitnah beliau adalah teman karibnya tersebut.
I Miss U Om.. :')

0 komentar:

Posting Komentar